Jumat, 16 Maret 2012

http://www.mediafire.com/?08j13m2q1m6yd9b

 

 

Sekolah. Menurutku sekolah itu selain tempat mengajarkan kita dasar keilmuan seperti tulis-menulis, membaca dan mendengarkan, sekolah juga harus mempersiapkan kita agar menjadi orang yang mampu menyerap, mengolah, mempraktikkan dan mengambil ilmu dari masyarakat, termasuk ekonomi dan sosial. Semisal, dulu di sekolah tidak ada Internet, nah kita harus belajar sendiri untuk bisa mengenal, menggunakan dan memanfaatkan Internet setidaknya untuk diri sendiri dan syukur-syukur dapat dimanfaatkan untuk orang banyak. Jadi Istilahnya, sekolah yang baik bagi saya adalah sekolah yang bisa membentuk siswanya kelak setelah lulus bisa berkembang sendiri di lingkungan dengan mempergunakan otak mereka sendiri yang telah diisi tetek bengek keilmuan yang dibutuhkan di masyarakat dalam perkembangan zamannya. Karena ilmu pengetahuan, masyarakat dan kehidupan, ekonomi, sosial, pola pikir generasi terdidik dan segala macamnya (atau kita sebut saja “Perkembangan Zaman”) terus berkembang dan maju. Artinya sekolah juga harus terus bisa mengikuti perkembangannya dengan perubahan-perubahan strategi, langkah-langkah yang up to date


juga agar bisa memenuhi tuntutan “Perubahan Zaman” sehingga anak didiknya dapat berhasil untuk hidup mapan di dunia masyarakat baik secara nasional maupun kelak secara global.
Nah, sekolah yang menurut saya semestinya up to date, yakni sekolah yang mengerti tuntutan zaman, kebutuhan bangsa, masyarakat dan dunia. Sekolah yang tidak up to date, tidak mengikuti “Perubahan Zaman” atau dalam artian hanya mengajarkan keilmuan dasar seperti menulis, membaca dan mendengar saja yang nantinya akan menciptakan masalah besar buat bangsa ini akibat kurang tanggap terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat baik secara ekonomi dan sosial. Dan menurut saya, salah satu masalah yang telah timbul dari sekolah yang tidak up to date ini adalah jumlah pengangguran yang meningkat di negeri ini. Jumlahnya mencapai 10,55 juta jiwa, (sumber: BPS dan Departemen Dalam Negeri Indonesia, 16/05/2007), itu dikarenakan dunia pendidikan kita tidak menlihat sebenarnya apa yang dibutuhkan bangsa; dunia dan masyarakat kita ini.
Berdasarkan pengalaman saya, di sekolah (mungkin termasuk orang tua kita juga) pada umumnya mengarahkan kita untuk bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil, polisi, dokter, bekerja di pemerintahan yang notabene semua itu volume penyerapan tenaga kerjanya sangat kecil. Dan ini secara tidak langsung artinya hanya mengajarkan bahwa orang berhasil apa bila menjadi seperti profesi seperti yang didoktrinkan tersebut dan yang ada, para siswa mempersiapkan diri sesuai kapasitas yang didoktrin tersebut. Padahal kenyataanya adalah tantangan yang dihadapi adalah sangat jauh lebih besar dari itu, mulai dari besarnya perbandingan antara jumlah pelamar dan jumlah yang diterima sehingga kualifikasi yang diminta adalah yang terbaik dan belum lagi menghadapi persaingan kualifikasi dari orang luar negeri, dan yang ada para lulusan ini menjadi tidak memenuhi tuntutan pasar dan kebutuhan masyarakat ataupun tidak terpakai karena memang ruang untuk kualifikasi mereka sudah terisi. Penuh!. Belum lagi munculnya diskriminasi pekerjaan. Bahwa pekerjaan A lebih tinggi derajatnya daripada pekerjaan B, atau pekerjaan C lebih bergengsi dibanding pekerjaan D, dan seterusnya. Kenapa akhirnya timbul banyak pengangguran adalah karena kita sudah banyak didokrin untuk selalu mencita-citakan hanya menjadi pekerja, bukannya mengajarkan kita untuk mencipta, berkreasi, dan menjadi kreatif secara mandiri seperti berwiraswasta baik dalam skala kecil, menengah dan besar.
Menurut buku yang pernah saya baca, bahwa pada awal permulaan Revolusi Industri di Prancis, Inggris, kawasan Eropa dan lalu menyebar ke seluruh pelosok bumi, dunia mulai membutuhkan tenaga kerja bersifat administratif, buruh, sales, marketing, akuntan dan manajer. Tetapi pada abad ini, para pekerja telah menempati lowongan tersebut dan mereka yang sudah pensiun berjumlah lebih sedikit dan tidak sebanding dengan lulusan sekolahan yang siap bekerja di posisi tersebut. Dan sayangnya sekolah kita mempersiapkan dan mengarahkan kita menuju ke dunia yang peluangnya sedikit serta kita kekurangan informasi tentang bagaimana sebenarnya ‘dunia’ itu yang lambat laun harus dihadapi untuk bertahan hidup agar tidak menjadi pengangguran. Dengan adanya lulusan yang menjadi pengangguran berarti sekolah tersebut telah gagal mendidik murid-muridnya menjadi orang yang bisa berkembang sendiri terhadap perubahan lingkungan.
Tak bermaksud merendahkan siapapun atau memberi penilaian buruk dengan menggunakan logika saya ini, tetapi inilah gambaran yang saya tangkap dari hasil pendidikan bangsa ini dalam menghadapi dunia global. Menurut saya, lulusan universitas yang memilki kecerdasan intelektual yang (semestinya) lebih daripada pekerja TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang notabene hanya lulusan SMA, SMP bahkan SD, tapi yang ada malah mereka lebih memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dibanding kebanyakan para lulusan intelektual kita ini. Dan parahnya, lulusan sarjana kita tidak dipakai di perusahaan asing atau setidaknya berada dibawah lulusan sekolah/universitas luar negeri pada perusahaan asing dan juga perusahaan dalam negeri. Artinya dimana sebenarnya posisi para intelektual sarjana itu sendiri dalam dunia global ? Apakah pendidikan kita sendiri sudah mempersiapkan kita menjadi pemain dalam kiprah dunia global dan bukan hanya sebagai pekerja saja dan sendi-sendi lainnya dalam era pesar bebas ini? Jikalau belum, berarti bangsa ini cenderung akan menjadi bangsa yang konsumtif saja dan bukan bangsa yang produktif. Kalau begini terus, bangsa kita hanya akan menjadi negara pembeli ditengah era globalisasi dan tetap menjadi negara yang miskin atau setidaknya negara yang kesulitan berkembang ! Sudahkah sistem pendidikan kita tersadarkan dengan kenyataan yang akan kita hadapi beberapa tahun kedepan ini ?

Sekolah yang pernah saya jalani sewaktu SMA adalah sekolah yang masih terlalu umum buat saya, dalam artian sekolah yang kurang dan malah mungkin tidak pernah memberi informasi tentang dunia kerja. Sebagai contoh, sekolah yang mengaku mengutamakan bahasa Inggris sebagai life skill ini serta usahanya untuk mencerdaskan anak-anak didiknya dalam berbahasa Inggris dalam kenyataannya ternyata biasa-biasa aja atau mungkin kalau boleh jujur, kurang sama sekali ( but I still love my school lho...!) Lain lagi halnya di tempat kuliah saya, (sebagai catatan, saya memilih institusi ini karena saya melihat peluang kerja Internationalnya terbuka lebar dimana setiap tahun jumlah kapal-kapal terus bertambah mengikuti perkembangan ekonomi dunia dan orang yang mau menjadi pelaut terus berkurang. Siklus pelaut yang ingin pensiun dini sangat banyak dengan alasan ingin bekerja di darat terutama di benua Eropa dan Asia ataupun telah mempunyai dana yang cukup untuk mulai berbisnis (Insya Allah saya akan memulai lebih dini untuk membangun bisnis). Sayangnya, di institusi ini dimana saya dipersiapkan menjadi nakhoda kapal yakni dengan cara melatih fisik 70% dan knowledge hanya 30%. Belum lagi kondisi yang tidak kondusif di asrama yang mengakibatkan kemungkinan 30% knowledge tersebut kian berkurang. Padahal seharusnya poin utama yang harus disiapkan untuk kalangan pemimpin seperti nakhoda di atas kapal yang notabene bekerja dalam lingkungan Internasional adalah kecerdasan intelektual seperti manajemen kepemimpinan, komunikasi, dan kebutuhan penguasaan keterampilan bernavigasi itu sendiri. Tapi di institusi ini seperti agak melenceng dari apa yang dituntut oleh pasar dunia, bahkan kalau boleh dibahasakan, saya menyebutnya kurang tepat sasaran. Bersyukurlah bagi orang yang pandai melihat dan membaca situasi seperti ini karena dapat mempersiapkan dirinya sendiri dengan berbagai life skills yang sekiranya diperlukan dalam persaingan pasar bebas dan tidak terlena serta berleha-leha dengan target kampus yang kedodoran tersebut. Pihak pembuat kurikulum kampus yang kurang tanggap dan tidak melihat perubahan terhadap tuntutan dunia kerja bagi pelaut menyulitkan lulusannya untuk bersaing di era globalisasi ini.
Yang terjadi sekarang pada sistem pendidikan kita adalah orang yang berada di dalamnya tidak berusaha untuk meng-update kebutuhan “Perkembangan Zaman” sehingga telah menyia-nyiakan kesempatan untuk membentuk generasi yang up to date pula, yang mampu memenuhi perkembangan zaman, yang bisa survive ditengah perubahan zaman dan tidak menjadi gagal dengan berputus asa seperti menjadi pengangguran yang terfokus hanya menjadi pekerja. Orang-orang yang ada dalam sistem pendidikan bangsa ini harus up to date dan terus mengikuti perkembangan zaman, tidak cuek serta hanya berpatokan pada kurikulum yang nyatanya tidak berhasil menurunkan, malah menambah jumlah pengagguran setiap tahunnya. Ya., seorang pendidik sebaiknya selalu tanggap akan perkembangan zaman!. Kurikulum dan pendidik yang up to date seharusnya menjadi cirh sekolah yang bisa diandalkan sehingga bisa membawa generasi muda bangsa ini menjadi generasi yang kreatif, berkualifikasi di zamannya, mampu menghadapi perubahan, dan tidak bersifat konsumtif dengan hanya menjadi pekerja saja. Sekolah adalah tempat pembentukan awal suatu bangsa. Buruknya pendidikan merupakan tanda-tanda awal masa kehancuran dan keterbelakangan bangsa diseluruh aspek, terutama yang paling menonjol pada dunia ekonomi yang juga merupakan sebagai gambaran suatu kondisi umum suatu bangsa. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang terindah dan ternyaman serta menyenangkan bagi generasi muda untuk mulai membangun dirinya dan bangsanya. Sekolah seharsunya dikendalikan dan dijalankan oleh orang-orang yang selalu up to date sehingga dapat membentuk generasi yang up to date juga dan menjadi generasi yang bisa meng-up to date-kan dirinya terhadap perubahan zaman sehingga bisa survive serta membangun bangsanya secara optimal. Sekolah adalah pondasi awal suatu manusia, masyarakat, bangsa dan dunia. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang memilki sistem pendidikan dan pelaku pendidikan yang selalu up to date terhadap perkembangan zaman. Marilah kita menjadi bangsa yang up to date!

IPA

from andan and iir silkan download //www.mediafire.com/?0doa8xjnmpqxn77

Rabu, 14 Maret 2012

Tugas presentasi dari saya.
Silahkan di download.
Download.
 by : Nyna Cipta Alfida dkk.
(maaf,lupa nama kelompoknya,besok saya repost)

Senin, 12 Maret 2012

Ini power point dari kami,tentang elektronika.
Monggo do download ..

Download

by :
Irfan Hilmi (16)
Pangestu Nur Mirza (27)
Rizka Ayu (37)
Siti Nur Alimah (43)

Minggu, 11 Maret 2012

Tugas power point saya tentang Uang dan Bank.
Silahkan di download..

Download Here.

by :
Achmad Alfiyan_01_IX-E.
Yusuf Puji H_46_IX-E.

Sabtu, 10 Maret 2012

 Ini tugas power point Bioteknologi saya.
Silahkan di download .

Download

by : M.Ardian Irfanudin_IX-E
Saya telah mengupload tugas powerpoint yang diberikan oleh P.Ikhfadz..
Yang mau lihat silahkan di download dulu,tapi powerpoint kami masih sederhana sekali.
Setelah download dengan format (.zip) di extract dahulu,,baru bisa dilihat.

Download Powerpoint Fisika

by :
Rezzky {Mr.VengenZ}_33_IX-E.
Regina Wahyu_32_IX-E.
Riza Eka Novitasari_36_IX-E.
Rofiqotul Khusnah_39_IX-E.

Jumat, 02 Maret 2012




















Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut:
  • Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
  • Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
  • Melestarikan kebudayaan.
  • Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.
Fungsi laten lembaga pendidikan adalah sebagai berikut.
  • Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.
  • Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
  • Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya.
  • Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.
Menurut David Popenoe, ada empat macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut:
  • Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
  • Memilih dan mengajarkan peranan sosial.
  • Menjamin integrasi sosial.
  • Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
  • Sumber inovasi sosial.
SEKOLAH SEBAGAI TANGAN-TANGAN PERADABAN MASA DEPAN
(Implementasi Budaya Pluralistik, Inklusif dan Kontekstual  
Intelligent School pada SMA)
 
 
Manusia terlahir dengan segala potensi yang dimiliki dan karakteristik yang khas, potensi dan karakteristik tersebut terlahir tidak akan sama persis dengan manusia lainnya, hanya satu kesamaannya yaitu manusia terlahir sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT. Hakikat manusia dengan keberagaman tersebut sudah sepantasnya menjadi dasar pembangun dalam segala aspek, tidak terkecuali pendidikan.
Sekolah sebagai tangan-tangan peradaban masa depan, harus mampu menjadi wadah dalam mengelola serta mempersiapkan sumber daya yang memiliki pengetahuan yang cerdas dan memiliki nilai-nilai yang positif, serta memiliki karakteristik Excellent Personallity (kepribadian unggul).
Kenyataan yang berkembang di Indonesia, umumnya sekolah belum begitu mampu menerapkan atau bahkan menghargai perbedaan yang ada di masyarakat sehingga semakin pesatnya konflik yang bersumber dari perbedaan agama, ras, suku, ide, politik dan lain-lain. Kenyataannya sekarang masih jarang ditemukan sekolah yang mampu menempatkan keberagaman sebagai pondasi dalam mewujudkan pendidikan yang bernilai.
Pengembangan budaya pluralistik, inklusi ataupun kontekstual harus mampu dikembangkan di sekolah. Arah dan pandangan tersebut mampu dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Sekolah bukan saja mampu mengontrol pengetahuan yang dimiliki siswa, tetapi sekolah harus mampu mengontrol nilai-nilai yang ada pada siswa.
Dalam kontek perubahan, pendidikan memegang peranan yang sangat penting sekali. Pendidikan sebagai kontrol perubahan, penyuplai bahan bakar perubahan (SDM) dipadukan dengan keterikatan nilai-nilai akan menjadikan sebagai pendidikan masa depan dan persekolahan khususnya sebagai tangan-tangan peradaban masa depan

Rabu, 29 Februari 2012




Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

My Youtube