Sabtu, 17 Maret 2012

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melakukan program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa untuk mengembangkan potensinya. Potensi yang dimaksud baik yang menyangkut aspek moral –spritual, kognitif, emosional maupun sosial. Sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian siswa dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku untuk mengantarkan manusia muda (siswa) ke alam kedewasaan. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kekeluargaan, kesejajaran, kasih sayang, dan kebebasan bertanggung jawab. Namun, waktu berjalan, peradaban berganti. Hubungan mendewasakan berganti mengurui dan digurui. Manusia muda tak lebih tong kosong yang bisa diisi sesuka hati pengisinya. Pendidikan direduksi sekedar pengajaran. Zaman ini, khususnya di Indonesia pendidikan (sekolah) sudah tidak lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa. Kekeluargaan, kasih sayang, kebebasan mengungkapkan diri siswa, sedikit demi sedikit mulai menghilang dari sebuah lembaga pendidikan yang di kenal dengan sekolah. Hal itu diakibatkan oleh banyak faktor. Namun dalam konteks ‘ketika sekolah menjadi tidak menyenangkan bagi siswa’ yang jelas ada beberapa faktor utama. Pertama, ketika guru dengan segala otoritasnya menjadi galak dan memandang siswa sebagai objek. Kedua, ketika guru memandang siswa sebagai tabularasa (kertas kosong) sehingga harus dicorat-coret dengan seenaknya. Saat itu pulalah terjadi ketidaksejajaran antara siswa dan guru sebagai makluk sosial yang saling membutuhkan. Ketiga, ketika proses pembelajaran dari awal hingga akhir dikuasai sepenuhnya oleh guru. Hal ini membuat siswa kehilangan kebebasan mengekpresikan siapa dia sebenarnya. Keempat, lingkungan fisik sekolah, baik di dalam kelas maupun lingkungan sekolah menjadi tempat yang tidak enjoy bagi siswa. Lingkungan sekolah yang kaku dan penataan kelas yang terlihat kumuh dan monoton membuat siswa tidak betah di lingkungan sekolah. Faktor kelima adalah peraturan sekolah yang ketat. Artinya peraturan sekolah yang memiliki aturan detail yang menuntut banyak kepada siswa membuat siswa ingin lari dari kanyataan. Beberapa faktor di atas membuat siswa tidak enjoy di sekolah. Siswa merasa sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan untuk belajar. Siswa akan memilih pergi meninggalkan (membolos) kelas sebagai tindakan protes mereka terhadap perilaku guru, proses pemelajaran, disiplin yang ketat maupun lingkungan sekolah yang kurang bersahabat. Siswa mencari tempat di luar sekolah yang cukup aman untuk mengekpresikan dirinya secara bebas tanpa harus dikontrol dan ditekan secara otoriter oleh siapa pun. Siswa secara berkelompok mereka akan mencari tempat yang enjoy seperti ke mal, duduk-duduk di jalanan atau di jembatan, atau tempat-tempat lain yang cukup aman bagi mereka. Sesuai dengan perkembangan individu, ketika siswa merasa aman, dia (siswa) bisa mengekpresikannya melalui hal-hal yang negatif seperti, minum-minuman keras, penggunaan obat-obat terlarang, dan bahkan perkelahian. Hakikat pendidikan, memanusiakan manusia muda berlandaskan kekeluargaan, kesejajaran, kasih sayang, dan kebebasan bertanggung jawab sudah jarang kita temui di kebanyakan lembaga-lembaga pendidikan kita. Pemerintah kita masih menyibukkan dengan masalah konsep kurikulum atau sistem pendidikan bahwa pendidikan itu harus begini dan begitu. Mereka jarang mempermasalahkan hal-hal teknis dilingkungan fisik sekolah, proses pemelajaran maupun cara pendekatan guru terhadap siswa. Tampaknya hal ini mengakibatkan persolan sumber daya manusia Indonesia selalu berada di bawah negara-negara tetangga. Sistem pendidikan sebagus dengan biaya sebesar berapapun sementara lingkungan sekolah (kelas) dan proses pembelajaran masih didominasi guru secara otoriter tanpa memberikan kebebasan yang bertanggung jawab kepada siswa, maka siswa selalu saja belajar dalam ketidaktenangan. Siswa akan belajar secara terpaksa yang akan berakibat buruk pada prestasi baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sehingga yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kondisi sekolah (kelas), sistem pembelajaran, peraturan sekolah dan sikap guru kepada siswa sehingga tercipta suasana belajar mengasyikan bagi siswa, sehingga siswa betah dan menjadikan sekolah sebagai istana belajar yang aman. Ketika sekolah tidak menyenangkan bagi siswa perlu dicari berbagai solusi untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar. Hal pertama yang kiranya perlu diperhatikan adalah sikap guru terhadap siswa. Sebagaimana ditawarkan dalam kurikulum baru yang dikenal dengan ‘Kurikulum Berbasis Kompetensi’ dalam perencanaan guru berperan sebagai desainer yang kreatif. Dalam tahap pelaksanaan guru berperan sebagai fasilitator, dinamisator dan motivator. Dalam tahap evaluasi guru berperan untuk memberikan umpan balik. Jadi di sini tidak ada guru yang menggurui, tidak ada guru yang otoriter atau galak. Beberapa peranan guru di atas, terutama tahap pelaksaan dilakukan dengan berlandaskan kekeluargaan, kesejajaran, kasih sayang dan menciptakan kebebasan bagi siswa. Guru dan siswa sejajar sebagai manusia yang saling membutuhkan tanpa harus ada otoritas di salah satu pihak. Selain itu, dalam proses pemelajaran memandang siswa secara merata, artinya tidak ada siswa yang lebih dianakemaskan. Kedua, pandangan guru terhadap siswa. Kiranya guru tidak memandang siswa sebagai kertas kosong, tetapi memandang siswa sebagai manusia yang memiliki kompetensi-kompetensi yang perlu didorong untuk mengembangkannya. Sehingga dalam pemelajaran guru memberikan kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan, misalnya dramatisasi pemelajaran, diskusi, debat dan permainan-permainan yang relefan dengan pokok bahasan atau materi pelajaran. Ketiga, lingkungan fisik sekolah, baik di dalam kelas maupun lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah kiranya perlu didesain dengan pendekatan natural. Misalnya, kerindangan (penanaman rerumputan dan pepohonan atau bunga-bungaan yang langka); kebersihan dan kerapihan lingkungan sekolah. Selain itu ruang kelas juga tidak terkesan kumuh, panas dan monoton. Artinya kerapihan terus perhatikan, kesejukan, dan bahkan peletakan kursi dan meja pun dapat berubah-ubah setiap saat. Keempat, adalah masalah peraturan sekolah. Penulis pernah membaca buku “Pendidikan Bebas” yang ditulis oleh guru-guru SMU Kolese de’Britto. Dalam buku itu dijelaskan bahwa mengapa de’Britto begitu terkenal elit dan para siswanya pun enjoy belajar di sana. Ternyata salah satu faktor yang membuat sekolah itu elit dan membuat siswa enjoy untuk belajar karena, de’Britto tidak membuat peraturan sekolah yang detail dan memberikan kebebasan yang bertanggung jawab kepada siswa. Tidak ada aturan ketat yang memaksakan siswa harus begitu dan begini. Disiplin waktu misalnya, cukup hanya dengan memberitahu “kamu lebih baik datang tepat waktu supaya teman-temanmu tidak terganggu dan juga kamu tidak ketinggalan pelajaran.” Sebagaimana hakikat sekolah adalah mengantarkan manusia muda ke alam kedewasaan. Maka untuk mengantarkan ke alam kedewasaan tentu tidak mudah berkata-kata, membutuhkan tenaga dan biaya. Namun untuk membuat sekolah sebagai istana belajar siswa yang mengasyikan, dirasa tidak terlalu membutuhkan biaya dan tenaga yang begitu banyak. Sehingga minimal dengan adanya menejemen berbasis sekolah, pihak sekolah memiliki kewenangan penuh untuk menjadikan lingkungan sekolah, guru dan pemelajaran yang menyenangkan bagi siswa, sehingga siswa tidak banyak keluar membolos atau mencari tempat-tempat yang lebih aman baginya. Selain itu pihak Dinas Pendidikan Daerah berperan penting, terutama dalam membuat peraturan-peraturan umum tentang sekolah. Sehingga sekolah menjadi benar-benar tempat mewujudnyatakan empat pilar pendidikan (UNESCO), yakni learning to know (belajar mengetahui) learning to bicame him-/herself (belajar hidup), learning to do (belajar bekerja), dan learning to live together (belajar hidup bersama). Dengan demikian benar-benar tercipta manusia muda (siswa) ke alam kedewasaan untuk mempertemukan dengan kodrat sejatinya kemanusiaan.


Nama kelompok : Almaratus Sholihah
                            Irfan Hilmi
                            Lailatul Munawaroh
                            Pangestu Nur Mirzha
                            Rina Dwi Purwati

Jumat, 16 Maret 2012

"http://www.ziddu.com/download/18889483/2huzein.docx.html" CERPEN - Kisah kasih di sekolah Senin Pagi, matahari rendah memantulkan uap yang terjebak dilindungi dedaunan. Hari yang indah dimana hari ini adalah hari pertama siswa – siswi SMP Pertama masuk sekolah setelah menikmati liburan semester. Piddha, seorang siswa cerdas bersiap-siap untuk mengikuti upacara dilapangan sekolahnya. Dengan langkah yang terlalu percaya diri Ia menuruni anak tangga satu demi satu sampai akhirnyaaaa….Ooppss! Piddha terpeleset. Untung sajaada seorang siswa baru bernama Huzein yang menolongnya. “ehmmm..terima Kasih ya,” kata Piddha yang wajahnya mulai memerah. “Oke deh, tapi lain kali kalo jalan hati-hati ya,” kata Huzein sambil tersenyum seraya meninggalkan Piddha yang masih terpesona oleh sikapnya. Tak lama kemudian, upacara pun dimulai. Semua murid mengikuti upacara dengan hikmat dari awal hingga akhirnya. Ditengah Upacara tersebut sang kepala sekolah mengumumkan siswa –siswi yang berprestasi, lagi – lagi nama Piddha terpanggil sebagai juara umum. Sementara itu, Piddha sama sekali tidak sadar bahwa dirinya disebutkan sebagai juara umum,matanya terlalu sibuk mencari sesosok pahlawan yang telah menolongnya ditangga tadi. Sampai akhirnya Alfian teman sekelas sekaligus sahabatnya berteriak tepat di depan telinga Piddha. “Piddhaaaa….!” Kata Alfian “apasih yan? Ini tuh lagi upacara, jangan berisik dong!” sergah Piddha “Piddha, nama kamu dipanggil kepala sekolah tuh, kamu disuruh kedepan sekarang. Oh iya, selamat ya jadi juara umum lagi.” Kata Alfian agak kesal “Hah??? Kamu serius?? Beneran kan?” Kata Piddha penasaran “Iyaa, mana mungkin aku bohong.” Seru Alfian “Yaudah deh, aku kedepan dulu ya. Makasih ya Alfian .” Kata Piddha dengan wajah gelisah seraya maju kedepan untuk menerima hadiah. “Hah? Pinter – pinter kok tulalit.” Kata Alfian Bel sekolah pun berbunyi menandakan waktu istirahat yang telah tiba. Namun Piddha masih berdiam dikelas melihat teman – teman barunya. Tanpa disengaja sorot matanya menuju tempat duduk yang berada dipojok kelas. Piddha sangat terkejut melihatnya, Ia tak menyangka bahwa dirinya satu kelas dengan anak baru yang menyelamatkannya itu.Piddha pun dengan segera menghampiri Huzein. “Haii!” Sapa Piddha “Eh, Piddha,” kata Huzein “Kok kamu tau nama aku sih?” “Tadi kan nama kamu dipanggil kepala sekolah karena menjadi juara umum disekolah kan?”Kata Huzein “Iya, emang kenapa?” Tanya Piddha “Wah hebat ya, Aku nggak nyangka sama sekali bisa sekelas sama orang pinter kayak kamu. Oh iya, kenalin nama aku Huzein anak baru disekolah ini.” Puji Huzein “Oh..Huzein. Aku kira Justin Bieber. Abisnya mirip sih, haha.” Tanya Piddha bergairah “Ah, kamu ada-ada aja. Ehmm..kamu nggak ke kantin? Tanya Huzein “Lah kamu sendiri?” “Aku kan anak baru belum terlalu hapal dengan tempat-tempat disekolah ini. Nanti kalo aku ke kantin terus aku lupa jalan kekelas gimana?” kata Huzein “kamu itu kayak anak kecil ya. Nggak akan kesasar kok, kan ke kantinnya sama aku, yukkk!” ajak Piddha “Hah? Serius? Yaudah deh yuuk!” Kata Huzein yang langsung berjalan menuju kantin bersama Piddha. Hari Senin pun berlalu, hari selasa pun hadir mengiringi Kisah-kasih antara Huzein dan Piddha disekolah. Pukul 06.10, Piddha sampai dikelas. Dengan sikap yang gelisah, ia pun langsung berlari menuju tempat duduk Huzein dan segera minta maaf karena dirinya tak bisa membalas sms dari Huzein karena pulsanya yang habis. Tanpa berfikir panjang, Huzein pun langsung memaafkan Piddha. Namun yang paling mengejutkan bagi Piddha adalah Huzein mengajaknya menonton Ludruk sepulang sekolah. Meskipun terkejut Piddha menerima tawaran itu dengan senang hati. Jam sudah menunjukkan pukul 15.30, Piddha menunggu Huzein yang sedang memesan tiket untuk menonton ludruk. Tanpa disengaja, Piddha dan Huzein bertemu dengan teman – teman sekelasnya yaitu Alfian, Nyna, Fhadyah dan Herman yang juga ingin menonton. “Piddha, Huzein! Kalian berdua kok ada disini?” Tanya Nyna yang curiga “Ini kan tempat umum, terserah kita dong.” Kata Piddha “Hei, kita juga tahu ini tempat umum. Tapi ngapain kalian berduaan nggak ngajak kita? Wah, ada hubungan gelap nih?” kata Alfian menggoda “eh, kita sebarin yuk ke temen – temen yang lain kalo Piddha sama Huzein ada hubungan gelap?” kata Fhadyah “Ih, hubungan gelap apaan sih? Ada – ada aja deh .” kata Piddha membantah “Pokoknya Huzein sama Piddha punya hubungan khusus. Aku akan tetap sebarin ke yang lain ah.” Kata Fhadyah memaksa “Sebarin apaan sih?” kata Huzein ikut membantah “kalo ngga mau kita sebarin, bayarin kita nonton dong Zein.” Kata Alfian “Iya, Bayarin! Bayarin! Bayarin!” kata Alfian, Nyna, Fhadyah dan Herman serempak. “Ih, berisik! Iya, iya, kalian semua aku bayarin.” Kata Huzein “Horeeeee…” kata semuanya serempak Akhirnya Piddha dan Huzein pun gagal untuk nonton berdua. Dengan wajah yang agak murung, Piddhapun menerima semuanya dengan tangan terbuka. Jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Anak – anak SMP Pertama pun bergegas untuk pulang. Seperti biasa, Piddha pulang bersama dengan Fhadyah. Diperjalanan berdua saling berbincang – bincang. “Pidh, Sebenernya kamu suka nggak sih sama Huzein?” Tanya Fhadyah Penasaran “Apaan sih Dyah?” kata Piddha “Udahlah jujur raja. Aku tuh udah tau dari sorot mata kamu kalo kamu lagi liat dia.” Ujar Fhadyah “Nah, itu udah tau!” kata Piddha “Oo, jadi emang bener nih?” kata Fhadyah semakin penasaran “he..he.. tapi Kamu jangan kasih tau siapa – siapa ya! Kecam Piddha “iya, iya. Kamu tau nggak sih kalo Huzein kan juga suka sama kamu!” Kata Fhadyah berbohong “Hah? Kamu serius?” Kata Piddha penasaran Kejadian yang sama dialami oleh Huzein. Secara tiba – tiba Alfian langsung menyambar Huzein dari belakang. Tanpa rasa ragu, Alfian pun menanyakan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Fhadyah. “Kamu suka sama Piddha ya? Jujur aja deh. Tenang aja aku nggak bakal bilangin deh.” Ujar Alfian memaksa “ehmm.. Gimana ya? Aku emang suka sih sama Piddha.” Kata Alfian “yaudah, kalo gitu langsung aja tembak si Piddha. Lagipula kan kalo kalian jadian aku bisa dapet PJ.” Kata Alfian “Apatuh PJ?” Tanya Huzein “Kamu norak ah, PJ aja nggak tau. Pj itu pajak jadian, jadi kalau kalian pacaran, kalian harus bayar pajak ke kita – kita. Ngerti?”Jelas Alfian “Mendingan nggak usah jadian deh.” Ujar Huzein “Eh, nggak boleh gitu dong. Cinta itu nggak boleh dipendam, nanti bikin penyakit tau! Lagipula Piddha juga suka kok sama kamu.” Kata Alfian Keesokan paginya, Huzein langsung mengajak Piddha keluar kelas untuk membicarakan sesuatu. “Piddha, emangnya kamu suka sama aku ya?” kata Huzein “hah? Kata siapa? Pasti si Fhadyah. Ehmm, Memangnya kamu juga suka sama aku ya?” Tanya Piddha “Bukan kata Fhadyah kok. Tapi kamu tau dari Alfian ya?” ujar Huzein “Jadi bener Huzein, kamu suka sama aku?” Tanya Piddha penasaran “Ehmm.. iyasih ! tapi memangnya kamu suka sama aku juga?” Tanya Huzein Piddha pun menganggukan kepalanya. “iya? Yang bener? Baguslah. Tapi nani kita bakalan kena PJ. Bangkrut deh aku.” Sambung Huzein.Piddha tertawa Piddha dan Huzein pun akhirnya hidup bahagia sebagai sepsang kekasih. Menskipun mereka merasa bangkrut karena harus mentraktir teman – temannya. ;-) Perhatian ! Cerita ini hanyalah cerita belaka,dengan sedikit perubahan…bagi pihak yang tersangkut jangan dimasukkan dalam perut,ntar mules loe…..wkwkwkwkwk TTD Mr.X by Huzein
 
PRAJURIT PEMBERANI


Tiga orang jenderal yang berasal dari Amerika, Rusia dan Indonesia sedang berjalan-jalan di kebun binatang Ragunan bareng anak buahnya.

Sesampainya di depan kandang singa, jenderal Amerika langsung pamer keberanian prajuritnya.

Jend Amerika : “Prajurit, cepat kamu masuk ke kandang singa itu dan ambilkan saya bulu ketek singa jantannya”

Prajurit : “Siap pak!”

Si prajurit Amerika pun langsung melompat ke kandang. Lima menit kemudian, ia kembali dengan tubuh penuh luka sambil membawa bulu ketek singa

Jend Amerika : “Tuh liat, anak buah saya berani dan hebat kan? Prajurit Amerika memang nomor satu”

Jend Rusia : “Prajurit Rusia lebih hebat. Prajurit, cepat masuk ke kandang singa dan cabut kuku jempol singa paling besar yang ada di sana”


Prajurit : “Siap pak!”

Si prajurit Rusia melompat ke kandang dan 10 menit kemudian dia kembali dengan tubuh berdarah dan tangannya buntung sambil membawa kuku jempol singa.

Jend Rusia : “Liat kan? Prajurit Rusia lebih berani”

Jend Indonesia : “Ah, prajurit kalia berdua gak ada apa-apanya dibandingkan dengan prajurit Indonesia. Prajurit, cepat masuk ke kandang singa, terus cabut kumis semua singa yang ada di situ”

Prajurit : “Apa??? Emaaak, kalau kasi perintah pakai otak dong! Kalau ke sana namanya cari mati tuh gak punya otak jadi atasan. Kamu saja yang masuk sendiri.

Jend Indonesia : “Tuh kan, prajurit saya yang paling berani. Di negara mana pun gak ada yang berani marah dan maki-maki jenderalnya sendiri?”










Pagi ini teman2 kerja ku lagi asyik ngomongin anak mereka yang baru masuk Sekolah Menengah Pertama. Dimana mereka lagi membahas Masa Orientasi Siswa anak mereka. Aku yang baru memiliki anak berumur 4 bulan hanya tertawa mendengar cerita mereka, karena aku gak punya cerita aku hanya ceritakan pengalaman waktu masa orientasi ketika aku masuk jenjang SMP. Mendengar salah satu seniorku pagi ini membuat suasana kantor menjadi heboh, karena anaknya yang baru masuk SMP di suruh oleh kakak kelasnya untuk membawa barang dengan petunjuknya yaitu harus membawa Cokelat Marshanda. Ada2 aja tuh permintaannya kakak kelasnya. Orang tua mana yang tahu Coklat Marshanda, atau anda tahu? Ternyata Cokelat marshanda yang dimaksud adalah Cokelat Cha Cha, diambil dari nama panggilan Marshanda yaitu Chaca.
Lain lagi cerita temanku yang satu lagi, anaknya disuruh membawa makanan dan minuman OSIS, dan ternyata adalah Sosis dan Minuman mineral bermerek OASIS.
Dan ketika aku berceloteh didepan mereka soal pengalaman waktu masa orientasi dan ceritaku ini kutulis disini aja. Masa Orientasi Siswa ( MOS ) adalah masa dimana siswa baru menjalani tahap perkenalan dengan siswa lain, sekolah serta masa Penataran Siswa.
Nah aku punya pengalaman lucu nih ketika masuk SMP dulu yaitu masuk di SMP Negeri 135 Jakarta Timur pada tahun 1993. Dimana waktu dulu aku berangkat sekolah disuruh kakak kelasku dengan menggunakan tas yang terbuat dari kantong terigu, lalu berdasi dari Terong Ungu, bertopi Caping serta memakai dot. Celakanya semua embel2 itu harus dipakai sebelum masuk gerbang sekolah, karena akan ada senior yang menunggu jauh digerbang sekolah. Wah merah aja tuh muka ku kalau dilihat oleh warga sekitar sekolahku. Tapi karena tuntutan senior yah ikuti aja.
Dan tibalah hari terakhir MOS, semua siswa baru diharap membawa makanan, agar bisa dibagi2 sama senior dan teman2 yang lain. Waktu itu aku dan ketiga temanku yang satu kelompok disuruh satu orang membawa Pisang Sesisir. Gawat nih pulang sekolah jam 5, nah kapan belinya tuh. Sedang kedua temanku itu sudah membelinya.
Malam hari aku bingung, kebetulan ortu memang gak ada dana buat beli, wong buat beli beras aja susah waktu itu. Nah berniat mau balsa dendam sama kakak kelasku wakt MOS, maka aku punya ide. Aku gak jadi bawa pisang sebanyak satu sisir, maklum mahal sih, maka sebagai gantinya aku bawa saja sebuah pisang dan satu buah sisir rambut milik ibuku.
Begitu sampai di sekolah aku jadi bahan tertawaan sekaligus kena hukuman seniorku.  “Kenapa kamu gak bawa pisang sesisir seperti dua teman mu itu?”, tanya seniorku. ” Lah ini kan juga sama kak, pisang dan sisir”, jelasku. Dan aku pun menjelaskan begini, Kalau dalam bahasa indonesia SE itu artinya satu jadi kalau Sesisir berarti satu sisir. Jadi pisang sesisir versiku adalah Satu Pisang dan Sebuah Sisir. Dan apa yang terjadi, suasana yang tadinya tegang menjadi pecah dengan gelak tawa semua peserta MOS.
Namun dengan membawa Pisang dan sisir itu berujung dengan hukuman buat aku, aku disuruh makan pisang yang dibawa tersebut tanpa memegangnya dan aku disuruh merapihkan rambut seniorku yang berjumlah lima orang dengan pisang masih nongkrong dimulutku itu. Sial benar hari itu, niat mau ngerjain senior eh malah dikerjain balik.


by : 08 ,22 ,23 ,31 ,41


SMPN  4 Surabaya .
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZerQQNNfv74O6m60Cv2dDfhiluK2Eu8kajRhJsPPJUsRVlo6QAEQrR5MHAupz0qOWmGm_WjPeqvpCjGZ1nxwV15hTcWiYozaFI1_fy8V4Im5_5rPw7sAGSYBe1KzX7oR8OGGVHXZGBl11/s1600/smpn+4+sby.jpeg
Logo SMPN4 Surabaya

 Disinilah aku bersekolah selama 3 tahun. Sebelum menginjakkan kaki di masa SMA . Masa yang kata orang sih m`sa-masa yang paling bahagia dan ditunggu-tunggu oleh kaula muda . Tapi bagi ku nggak juga, aku lebih menikmati masa-masa smpku dulu. Masa-masa indah yang nggak akan terlupakan. 3 tahun bareng sama anak-anak ac-milan'e (arek Sembilan-E).  Seneng, sedih, tawa, duka, tangis, canda, marah-marahan, olok-olokan, sirik-sirikan, nggosipin orang, cemburu-cemburuan.[ haha :D] semuanya di lewatin sama-sama.
SMP-ku ini adalah salah satu sekolah favorit di Surabaya. Sebagian dari bangunan SMPN 4 merupakan bagian dari sejarah kota Surabaya yang nggak boleh dirubah, so .. harus tetap begitu adanya. Tapi sebagian ada juga bangunan baru. Dulu ketika aku masih menyandang status siswa disana sekolahnya masih jauhhh ... beda sama yang sekarang . SMPN 4 yang sekarang bangunannya indah dan sangat nyaman untuk KBM. Alamakk .. sayang sekali aku ngga ikut ngerasain .  -.- hahaha
Orang tuaku dan aku bangga banget saat aku diterima disekolah ini. Maklumlah rumahku kan di pelosoknya Surabaya, jadi diterima disekolah negeri tengah kota rasanya bahagia minta ampyun . (haha) agak alay memang, tapi bagi anda yang tinggal dipelosok pasti pernah merasakan hal ini . :p
Berangkat pagi-pagi demi nungguin angkot, karena perjalanan dari rumahku ke sekolah membutuhkan waktu yang amat-sangat lamaa, sebenernya ngak lama-lama amat juga sih hanya satu jam . satu jam = hanya ? -.- . Jadi, mau nggak mau pkoknya harus mau berangkat jam 5 setiap hari, itupun kadang masih suka mepet datengnya sama jam masuk sekolah, habis pak supirnya lelet sih bawain angkotnya. Sedangkan bel sekolahku berdering jam 6.15. Sebelum jam pertama dimulai, disekolahku dulu ini terbiasa baris-berbaris didepan kelas, kemudian salim sama Bapak/Ibu guru yang mengejar baru boleh masuk kelas. Tapi nggak langsung pelajaran, karena kita harus dengerin kultum dulu. Meskipun sekolahku bukan sekolah MTS sekoalah ku masih memegang prinsip agama yang kuat loh . (hehe) So, jam 6.30 barulah KBM dapat dimulai .
Dulu ketika masih berada dibangku SMP, aku dan teman-teman seperjuanganganku, Cholifah, Retno dan Nurul punya kebiasaan yang sama, sama-sama suka makan pentol kuahnya yang didepan sekolah (haha). Meskipun kita nggak satu kelas (hanya Cholifah dan Retno yang sekelas) kami tetap pulang sekolah bareng-bareng, karena emang rumah kita se-arah (hehe). Ketika pulang sekolah kita slalu beli pentol kuah dulu untuk cemilan di Angkot (salah'e .. pentolnya enak ehh) haha . Saat di angkotpun kita sukanya mojok, biar bisa ngerumpi dengan bebas ! Sampai-sampai kita harus rela nunggu lama demi mendapat angkot yang kosong (biar bisa duduk dipojokan) haha .
Tapi kita masa SMPku sudah berlalu, sekarang aku telah duduk dibangku Menengah Atas hampir ke perguruan tinggi malahan :). kenangan indah yang tak mungkin terlupa ..
kangen deh sama SMP-ku tercinta ini, sama guru-gurunya, terutama Bu Yun (guru BP tercinta) . miss you mom :'). Sama anak penghuni kelas E (Puput, Amel, Erynda, Masku Noval, Riska, Marta, dan semua-muanya), tak lupa dengan Wali kelas 7-ku dulu Bu LIlis, Wali kelas 8 Bu Sukma dan Wali Kelas 9, Bu Lylia . Semua guru-guru yang ramah, tegas, baik hati, murah senyum, sungguh-sungguh tak akan aku lupa jasa Bapak/Ibu guru. Sekolah ini sangat menyimpan begitu banyak kenangan indah disana :'), takkan mampu aku menghapusnya ...





by : 08 ,22 ,23 ,31 ,41

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

My Youtube