Jumat, 24 Februari 2012

Perbedaan Pendidikan di Indonesia Dengan Amerika

Pendidikan di Indonesia
adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Secara terstruktur, pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Kemdiknas), dahulu bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Depdikbud). Di Indonesia semua penduduk wajib mengikuti pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dan tiga tahun di sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha terencana untuk membangun lingkungan belajar dan proses pembelajaran, sehingga para anak didik dapat secara giat mengembangkan potensi masing-masing guna memperbaiki taraf kerohanian, kesadaran, kepribadian, kecerdasan, keetisan, dan kekreatifan yang sesuai bagi masing-masing, bagi sesama warga negara, maupun bagi bangsa. Konstitusi nasional juga mencantumkan bahwa pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam dua bagian utama, yaitu formal dan non-formal. Pendidikan formal dibagi lagi ke dalam tiga tingkatan, yaitu dasar, menengah, dan tinggi.
Tingkat pendidikan di Indonesia
Prasekolah
Dari kelahiran sampai usia 3 tahun, kanak-kanak Indonesia pada umumnya tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal. Dari usia 3 sampai 4 atau 5 tahun, mereka memasuki taman kanak-kanak. Pendidikan ini tidak wajib bagi warga negara Indonesia, tujuan pokoknya adalah untuk mempersiapkan anak didik memasuki sekolah dasar. Dari 49.000 taman kanak-kanak yang ada di Indonesia, 99,35% diselenggarakan oleh pihak swasta. Periode taman kanak-kanak biasanya dibagi ke dalam “Kelas A” (atau Nol Kecil) dan “Kelas B” (atau Nol Besar), masing-masing untuk periode satu tahun.
Sekolah dasar
Kanak-kanak berusia 6–11 tahun memasuki sekolah dasar (SD) atau madrasah ibtidaiyah (MI). Tingkatan pendidikan ini adalah wajib bagi seluruh warga negara Indonesia berdasarkan konstitusi nasional. Tidak seperti taman kanak-kanak yang sebagian besar di antaranya diselenggarakan pihak swasta, justru sebagian besar sekolah dasar diselenggarakan oleh sekolah-sekolah umum yang disediakan oleh negara (disebut “sekolah dasar negeri” atau “madrasah ibtidaiyah negeri”), terhitung 93% dari seluruh sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah yang ada di Indonesia. Sama halnya dengan sistem pendidikan di Amerika Serikat dan Australia, para siswa harus belajar selama enam tahun untuk menyelesaikan tahapan ini. Beberapa sekolah memberikan program pembelajaran yang dipercepat, di mana para siswa yang berkinerja bagus dapat menuntaskan sekolah dasar selama lima tahun saja.
Sekolah menengah pertama
Sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs) adalah bagian dari pendidikan dasar. Setelah tamat dari SD/MI, para siswa dapat memilih untuk memasuki SMP atau MTs selama tiga tahun pada kisaran usia 12-14. Setelah tiga tahun dan tamat, para siswa dapat meneruskan pendidikan mereka ke sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), atau madrasah aliyah (MA).
Sekolah menengah atas
Sebuah sekolah menengah atas negeri di Jakarta
Di Indonesia, pada tingkatan ini terdapat tiga jenis sekolah, yaitu sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah(MA). Siswa SMA dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, sedangkan siswa SMK dipersiapkan untuk dapat langsung memasuki dunia kerja tanpa melanjutkan ke tahapan pendidikan selanjutnya. Madrasah aliyah pada dasarnya sama dengan sekolah menengah atas, tetapi porsi kurikulum keagamaannya (dalam hal ini Islam) lebih besar dibandingkan dengan sekolah menengah atas.Jumlah sekolah menengah atas di Indonesia sedikit lebih kecil dari 9.000 buah.
Pendidikan tinggi
Setelah tamat dari sekolah menengah atas atau madrasah aliyah, para siswa dapat memasuki perguruan tinggi. Pendidikan tinggi di Indonesia dibagi ke dalam dua kategori: yakni negeri dan swasta. Kedua-duanya dipandu oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Terdapat beberapa jenis lembaga pendidikan tinggi; misalnya universitas, sekolah tinggi, institut, akademi, dan politeknik. Ada beberapa tingkatan gelar yang dapat diraih di pendidikan tinggi, yaitu Diploma 3 (D3), Diploma 4 (D4), Strata 1 (S1), Strata 2 (S2), dan Strata 3 (S3).
Pendidikan di Amerika Serikat
terutama disediakan oleh sektor publik , dengan kontrol dan pendanaan yang berasal dari tiga tingkat: federal ,negara bagian , dan lokal . pendidikan anak adalah wajib . Pendidikan umum tersedia secara universal. Kurikulum sekolah, pendanaan, mengajar, pekerjaan, dan kebijakan lainnya diatur melalui lokal dipilihdewan sekolah dengan yurisdiksi atas distrik sekolah dengan banyak arahan dari legislatif negara. kabupaten Sekolah biasanya terpisah dari yurisdiksi lokal lainnya, dengan pejabat independen dan anggaran. Standar Pendidikan dan pengujian standar keputusan biasanya dibuat oleh pemerintah negara bagian. Usia pendidikan wajib bervariasi oleh negara. Ini dimulai dari usia 5-8 dan berakhir dari usia 14-18. [3] persyaratan pendidikan Wajib umumnya dapat dipenuhi dengan mendidik anak-anak di sekolah umum , negara-bersertifikat sekolah swasta , atau disetujui rumah sekolah program. Dalam publik dan swasta sebagian besar sekolah, pendidikan dibagi menjadi tiga tingkatan: SD , sekolah menengah (kadang-kadang disebut SMP), dan sekolah tinggi (kadang-kadang disebut sebagai pendidikan sekunder). Di hampir semua sekolah di tingkat ini, anak-anak dibagi dengan kelompok usia ke kelas , mulai dari taman kanak-kanak (diikuti oleh kelas pertama ) bagi anak-anak bungsu di sekolah dasar, sampai dengan dua belas kelas , tahun terakhir sekolah menengah . Rentang usia yang tepat dari siswa dalam tingkatan kelas sedikit bervariasi dari daerah ke daerah. Pendidikan menengah Post , lebih dikenal sebagai “ kuliah ”di Amerika Serikat, umumnya diatur terpisah dari sistem SMA dan SD, dan dideskripsikan dalam bagian terpisah di bawah ini.
 jamilatul F.(18),dian ayu o.p. (05)



Republik Korea (bahasa Korea: Daehan Minguk (Hangul: 대한민국; Hanja: 大韓民國); bahasa Inggris: Republic of Korea/ROK) biasanya dikenal sebagai Korea Selatan, adalah sebuah negara di Asia Timur yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Di sebelah utara, Republik Korea berbataskan Korea Utara, di mana keduanya bersatu sebagai sebuah negara hingga tahun 1948. Laut Kuning di sebelah barat, Jepang berada di seberang Laut Jepang (disebut "Laut Timur" oleh orang-orang Korea) dan Selat Korea berada di bagian tenggara.[2] Negara ini dikenal dengan nama Hanguk (한국; 韓國).[3] oleh penduduk Korea Selatan dan disebut Namchosŏn (남조선; 南朝鮮; "Chosŏn Selatan") di Korea Utara. Ibu kota Korea Selatan adalah Seoul (서울).
Penemuan arkeologis menunjukkan bahwa Semenanjung Korea telah didiami sejak Masa Paleolitik Awal.[4][5] Sejarah Korea dimulai dari pembentukan Gojoseon pada 2333 SM. oleh Dan-gun. Setelah unifikasi Tiga Kerajaan Korea dibawah Silla pada 668 M, Korea menjadi satu dibawah Dinasti Goryeo dan Dinasti Joseon hingga akhir Kekaisaran Han Raya pada 1910 karena dianeksasi oleh Jepang. Setelah liberalisasi dan pendudukan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II, Wilayah Korea akhirnya dibagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.
Studi di Jepang

PDF Print E-mail
Gak lengkap kita maen maen ke Jepang pada program Around The World ini kalo gak nyinggung soal pendidikan nih Classy People, gimana sih system pendidikan di negeri para samurai. Bener banget, sapa sih yang gak pengen nglanjutin studi ke negeri sakura, Stefan. Belajar bikin robot asimo tuh, aduh…pasti keren hehehh. Seru juga yah, liburan dapet duit, manfaat buat orang banyak lagi. Nah, classy people, tidak berbeda dengan prancis, di jepang, sector pendidikan mendapat perhatian yang besar loh dari pemerintah jepang. Keliatannya factor pendidikan benar benar menjadi ujung tombak kemajuan Jepang ya..
Betul, hal ini sangat diperhatikan oleh pemerintah jepang. Berbagai macam fasilitas diberikan untuk menunjang pendidikan yang berkualitas, secara gratis. Bagi anak yang tidak mampu, akan ada bantuan khusus. Sehingga tak ada alasan bagi para muda-mudi untuk tidak belajar. Mereka semua bias mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
Menarik sekali yah, eh saya denger Pemerintah jepang ternyata juga kerap mereformasi kurikulum pendidikan. Eh emang bener loh,, Reformasi pendidikan tertuang dalam program ‘Yoturi Kyoiku’ yang dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, serta Teknologi (MEXT).
Sedikit banyaknya mirip juga yah disini, tiap kali mentri pendidikan berganti kurikulum kita juga ganti hahahah. Nah, ada beberapa kecendrungan juga nih terkait dengan system pendidikan di Jepang. Pendidikan jepang memiliki serangkaian keunggulan, misalnya :
  • Kurikulum dasar yang kuat pada bidang studi matematika dan ilmu pasti,
  • Komitmen masyarakat yang kuat pada keunggulan akademik
  • Keselarasan hubungan pengajar dan murid
  • Perencanaan pendidikan yang matang visioner,
  • Implementasi yang baik dalam ilmu terapan.
Yoturi Kyoiku diformulasikan untuk kecendrungan tersebut. Seiring, upaya meningkatkan standar akademik dalam program ‘super science’ untuk siswa SMA dengan kemampuan diatas rata-rata.
Tidak jauh berbeda dengan system pendidikan yang diterapkan di Amerika, classy people, jenjang pendidikan di Jepang sampai SMP hampir secara eksklusif adalah sekolah publik (kurang dari 5% adalah milik swasta). Sampai SMP, siswa belajar di sekolah yang dalam berada dilingkungan rumah mereka berada. Namun, untuk sekolah menengah senior tersebar diberbagai daerah: hal ini berarti bahwa ada persaingan di antara sekolah untuk murid terbaik di daerah tertentu. Lebih dari seperempat dari sekolah menengah senior di jepang adalah swasta dan lagi dalam hal ini Classy people, menunjukkan tingginya tingkat persaingan di sekolah tingkat yang lebih tinggi di Jepang: imbasnya orang tua akan membayar jumlah yang besar untuk pendidikan anak-anak mereka.
Nah sementara itu classy people, perkembangan pendidikan secara umum dan standar hidup masyarakat jepang secara keseluruhan telah mampu menghasilkan standar pendidikan tertinggi didunia, dimana beberapa praktisi dan pengamat menilai  bahwa berbagai tekanan pada pihak akademisi termasuk murid murid sekolah telah memberikan dampak baru disisi psikologis mereka (kendati belum ada data resmi yang diterbitkan terkait isu ini). Dan juga dari factor makanan yang dikonsumsi masyarakat jepang, pengurangan tenaga kerja anak anak (tidak ada anak2 yang bekerja di pertanian maupun pabrik). Namun demikian, fenomena ini jamak terjadi diberbagai Negara maju seperti amerika atau prancis.
Sebelumnya, orang mengira bahwa masa depan siswa di Jepang sebagian besar ditentukan oleh masuk ke universitas yang tepat maka akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang bagus dsebuah perusahaan besar. Tapi dengan meningkatnya persaingan diantara sekolah dijepang berarti bahwa tekanan semakin meluas sehingga Universitas tidak lagi menjadi tolak ukur namun lebih jauh kebelakang seperti pendidikan yang dienyam diumur 12 atau 15 tahun, apakah siswa berasal dari SMP atau SMA yang credible atau tidak.
Nah classy people, karna kita harus merunut jauh kebelakang, gak ada salahnya kita bahas sekilas tentang pendidikan anak usia dini di Jepang.
TK (Yochien). Meskipun pendidikan opsional, pada tahun 2000 jumlah peminat baru ke taman kanak-kanak lebih dari 63% dari jumlah peminat baru ke Sekolah Dasar atau Junior - yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari semua anak-anak balita Jepang memulai pendidikan mereka sebelumnya dari yang dibutuhkan oleh negara. Pemerintah Jepang merasa perlu untuk untuk meningkatkan ketersediaan taman kanak-kanak, sebagian untuk memungkinkan ibu yang bekerja dan apabila mereka perlu atau ingin menitipkan anaknya.

Sekolah Dasar (Shogakkou). Selama enam tahun dari usia anak enam sampai dua belas tahun adalah tahap pertama dari pendidikan wajib untuk anak-anak Jepang. Hampir semua anak Jepang masuk sekolah pada tahap ini, meskipun peningkatan jumlah sudah ada sejak TK. Nah, ada yang menarik nih classy people, Seragam standar anak sekolah dasar di Jepang adalah seperti anak-anak kecil dengan topi bisbol kuning cerah, payung kuning cerah, jas hujan kuning cerah, dll berjalan dalam antrean panjang di sekitar kota-kota Jepang. Terlihat teratur dalam gerombolan besar atau berjalan berpasangan bergandengan tangan atau dengan kelompok yang lebih kecil melihat lihat dagangan kartu pokemon.
Lucu yah. . . .
 
Sekolah Menengah Pertama (Chugakkou). Sekolah SMP adalah untuk usia dari 12-15 tahun, ini adalah fase yang sangat penting dalam tumbuh-kembang anak Jepang. Hasil di SMP akan menentukan masuk ke Sekolah Tinggi Senior yang baik dan selanjutnya akan berujung pada universitas yang baik dan karier yang cemerlang. Nah, pada titik ini murid-murid biasanya lembur di sekolah, sibuk dengan berbagai klub dan kegiatan serta berbagai macam studi Juku (semacam kursus).
Sekolah Menengah (Koukou; koutougakkou). puncak tekanan untuk siswa dalam system pendidikan sekolah Jepang adalah pada saat mereka berumur 15-18 tahun, usia SMA. Masuk ke SMA melalui ujian masuk. Persiapan untuk ujian itu sendiri, tentu saja, biasanya melalui menghadiri Juku baik (lihat di bawah). Untuk mendapatkan tempat di universitas terbaik berarti bahwa siswa benar-benar perlu untuk pergi ke sekolah tinggi senior yang tepat, oleh karena itu ujian masuk SMA dapat memiliki dampak besar pada karir masa depan seorang siswa Jepang. Karena jumlah sekolah swasta meningkat (saat ini lebih dari satu seperempat dari sekolah menengah senior adalah swasta) dan tekanan untuk meningkatan mutu pendidikan semakin baik, dan akan berakhir hingga biaya yang dikeluarkan orang tua semakin bertambah. Budaya pendidikan seperti ini perlahan-lahan menyebar keseluruh jepang. Sekolah di SMP terbaik akan membawa anda ke SMA terbaik dan begitu seterusnya dan meskipun tidak wajib di Jepang, lebih dari 90% dari semua anak-anak masuk SLTA.
Part time school. Nah ada lagi yang menarik dari system pendidikan di Jepang nih classy people. Dalam beberapa kasus, dimana siswa sudah bekerja penuh waktu, mereka dapat menghadiri sekolah malam bukan sekolah tinggi seperti biasa. Kelas-kelas ini dijalankan pada malam hari, dan bukannya tiga tahun seperti sekolah umum lainnya, dibutuhkan empat tahun untuk menyelesaikan pendidikan SMA pada kelas malam ini. Kelas biasanya dimulai 09:00 malam atau lebih lambat, solusi ini dirasa cocok dan membuat life style tersendiri bagi siswa yang sibuk bekerja. Dibandingkan dengan siswa sekolah SMA kebanyakan, siswa SMA part time cenderung menjadi lebih matang dalam kehidupan social mereka.
Juku. Tekanan sistem pendidikan di Jepang sangatlah besar, dan begitu banyak masa depan anak tergantung pada apakah mereka bersekolah disekolah yang tepat dan dapat berakhir di universitas yang bagus di usia yang sangat muda. Dalam banyak kasus, aktifitas belajar seorang anak tidak serta merta berkahir ketika bel sekolah berbunyi, ada serangkaian kegiatan lain yang harus mereka iluti, seperti pelajaran piano atau biola, bola basket atau sepak bola, kendo atau judo, panahan atau Inggris, Matematika atau Seni atau bergabung dengan salah satu dari puluhan klub diselenggarakan di sekolah. Anak-anak juga menghadiri berbagai pelajaran tambahan yang disebut "Juku" yang digunakan untuk mendorong siswa berprestasi lebih lanjut. Kelas ini dapat berlangsung hingga larut, umumnya seorang siswa dijepang menghabiskan lebih dari 12 jam untuk aktifitas belajar saja.
Walaupun sistem pendidikan seperti ini telah menghasilkan sebuah standar kecerdasan yang paling mengesankan dan tertinggi pendidikan di dunia, ada orang-orang yang sekarang mempertanyakan dampak dari berbagai tekanan seperti ini pada siswa usia muda. Ada berbagai kasus yang muncul tentang peningkatan jumlah anak muda dan anak-anak dengan gangguan stres, dan berbagai kisah tentang anak-anak menarik diri dari masyarakat dan sekolah umum di berbagai pemberitaan. Nah, oleh karena itu Classy people Monbukagakusho baru direformasi  dari yang sebelumnya dan lebih bertanggung jawab pada Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi, serta meningkatkan penekanan pada pengembangan individu dalam hal pembangunan jati diri siswa baik secara mental dan sosial.
Sekolah Lainnya. Ada banyak pilihan lain yang tersedia, termasuk Senmon Gakkou (khusus sekolah pelatihan teknis atau kejuruan), Kolese Junior, dan sebagainya. Siswa Senmon Gakkou menawarkan kesempatan untuk menggabungkan studi Senior High School dengan subjek kejuruan - yang umum meliputi mekanik motor, salon kecantikan, arsitektur dan sejenisnya. Biasanya studi kejuruan ini memakan hingga 4 tahun kursus, dan dimulai setelah SMP. Beberapa Senmon Gakkou sangat kompetitif. Junior college menawarkan dua tahun yang sederajat dengan universitas, namun mengarah ke model "Asosiasi" sebagai padanan untuk gelar sarjana. Hampir 90% dari mahasiswa di perguruan tinggi Junior perempuan, sementara hanya sekitar 40% dari mahasiswa adalah perempuan, salah satu bentuk dari beberapa ketidakseimbangan dalam sistem pendidikan Jepang.
Guru Jepang. Guru Jepang memiliki studi Lanjutan yang sangat bagus, sertifikat mengajar pertama atau kedua-kelas. Guru didorong untuk bekerja menuju kualifikasi tingkat yang lebih tinggi dengan terlibat dalam pelatihan yang sedang berlangsung. Setelah menyelesaikan pelatihan, guru di sekolah SD dan SMP dengan gelar sarjana diberikan sertifikat mengajar disekolah, dan mereka dengan sertifikat junior college diberikan sertifikat kelas dua. Di sekolah menengah atas, guru dengan gelar Master diberikan sertifikat kelas mengajar, dan mereka dengan gelar Bachelor sertifikat kelas dua.
Setelah mendapatkan sertifikat mengajar, rintangan terakhir bagi guru di sekolah umum adalah untuk lulus ujian ditetapkan oleh prefektur dimasing2 area untuk diangkat guru. Setelah melalui pemeriksaan ini guru dapat bekerja di sekolah manapun di prefektur tersebut. Namun, lisensi ini hanya berlaku untuk satu tahun dan jika mereka gagal untuk mencari pekerjaan dalam satu tahun, mereka harus mengambil ujian lagi. Jika melamar di sebuah sekolah swasta, sekolah akan menetapkan persyaratan mereka sendiri untuk pekerjaan ini.
Metode Pengajaran. Bagaimana dengan metode belaja-mengajar di Jepang?? Pengajaran di Jepang kadang-kadang dianggap kaku dan tidak berubah. Meskipun kurikulum diatur oleh Negara untuk titik di mana materi dan waktu belajar untuk dihabiskan pada setiap mata pelajaran secara jelas ditetapkan, metode pengajaran yang sebenarnya itu sendiri sepenuhnya terserah pada guru masing masing. Namun, sering dianggap bahwa faktor budaya dan khususnya sekolah-sekolah pelatihan guru yang mendorong metode standar pengajaran, dan mengurangi kompetensi guru untuk mengembangkan metode individual.
Anak-anak asing di Sekolah Jepang. Setelah langka, mahasiswa asing di sekolah-sekolah Jepang menjadi lebih dan lebih umum - terutama di pusat-pusat perkotaan. Jika Anda pindah ke Jepang dan ingin anak Anda menghadiri sekolah setempat, semua anak yang memenuhi syarat untuk memasuki pendidikan umum gratis (yaitu hingga akhir SMP pada usia 15). Biaya hanya Anda harus membayar untuk anak Anda adalah sama seperti orang tua Jepang - seragam, teks, klub, dan sejenisnya.
Untuk rincian, hubungi balai kota setempat. Beberapa sekolah memiliki lebih banyak pengalaman mengajar mahasiswa asing dan kebutuhan pendidikan mereka, sehingga patut mencari tahu di muka yang merupakan sekolah yang paling cocok karena sekolah anak Anda akan masuk ditentukan oleh dimana Anda tinggal, bukan kualitas sekolah. Dewan kota akan mampu memberikan Anda informasi, atau Anda atau teman dapat menelepon sekitar sekolah dan menemukan mana yang direkomendasikan.
Tentu saja Anda juga dapat memilih sekolah swasta: di kota-kota besar sering ada sekolah internasional yang akan menawarkan pelajaran dalam bahasa Inggris dan Jepang. Hal ini tentu saja pilihan yang lebih mahal, tetapi jika Anda tidak ingin anak-anak Anda harus belajar segala sesuatu dalam bahasa Jepang, ini mungkin pilihan yang lebih baik (khususnya untuk anak-anak yang lebih tua). Kebanyakan anak akan belajar bahasa Jepang jauh lebih cepat daripada orang tua mereka, sehingga Anda tidak perlu khawatir bahwa mereka akan belajar dengan cepat.

Summarized by : Rain
 
Suatu hari ada seorang rekan pembaca yang bertanya melalui e-mail, "Pak Agus, bagaimana caranya membangkitkan semangat hidup?" Rekan saya tersebut berkisah bahwa ia sering keliru memaknai sebuah hadits yang berbunyi, "Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok". Ia beranggapan bahwa untuk apa bekerja keras meraih kesuksesan dunia kalau pada akhirnya kita juga akan mati.
Ya, memang benar kita akan mati, tapi bukan berarti kita menjadi bersikap apatis seperti itu. Memang pada suatu saat nanti maut pasti akan menjemput, dan berakhirlah kontrak hidup kita di dunia ini. Namun jika hal ini menjadikan kita kehilangan semangat untuk berjuang dan bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita, atau paling tidak berusaha agar kita bisa meraih kehidupan yang lebih baik maka pemahaman seperti itu kurang benar.
Akhirat memang harus kita dapatkan, namun dunia juga tidak boleh kita abaikan. Dan yang paling ideal adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Semua orang pasti menghendaki kedua hal tersebut. Jadi ada keseimbangan dalam hidup ini. Di samping bekerja keras untuk urusan dunia, di sisi lain kita juga tidak melupakan ibadah kita kepada Tuhan. Kita tidak mementingkan dunia saja, tapi kita juga tetap ingat kepada Allah SWT, dan sadar betul kewajiban kita kepada-Nya. Dengan memahami pentingnya keseimbangan hidup tersebut, kita akan memiliki sebuah semangat untuk menjalani hidup ini dengan dinamis, optimis dan bahagia.
Berikut mari kita uraikan beberapa hal yang dapat membangkitkan semangat hidup, antara lain:
1.Tahu apa hakekat sebenarnya hidup ini.
Banyak orang yang tidak tahu apa sebenarnya hakekat hidup ini. Untuk apa kita hidup? Untuk apa kita ada di dunia ini? Memang butuh perenungan yang dalam untuk menemukan jawaban pertanyaan seperti itu. Bagi Anda yang muslim, pasti Anda pernah mendengar atau membaca firman Allah SWT dalam Al Quran surat Adz Dzariyaat ayat 56 yang artinya, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."
Mengabdi/beribadah di sini memiliki arti yang sangat luas. Bukan hanya ibadah yang kaitannya dengan urusan akhirat saja, namun semua ikhtiar dan kerja keras kita dalam hidup ini adalah ibadah. Selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan ajaran agama yang kita anut, itu pun bernilai ibadah. Kita berusaha membahagiakan dan mencukupi kebutuhan keluarga kita, itu juga ibadah. Yang penting dari awal kita niatkan apa pun usaha kita hanya untuk mencari keridhoan-Nya dan kita pun harus seimbang dalam mengerjakan urusan dunia dan amalan akhirat.
Jika kita menyadari hal ini, tentu kita akan memiliki semangat untuk mengerjakan semua pekerjaan dan urusan dengan cara yang terbaik. Satu hal yang penting dan tidak boleh dilupakan adalah niat, karena niat akan menentukan nilai amal/perbuatan kita.
2.Tahu cita-cita hidup kita yang tertinggi.
Semua orang memiliki impian dan cita-cita, namun hanya sedikit yang berani mengejar dan mewujudkannya menjadi sebuah pencapaian hidup. Banyak orang kehilangan semangat dalam hidupnya hanya karena mereka tidak tahu atau tidak mau tahu akan apa yang sebenarnya yang mereka mau. Apa yang sebenarnya yang mereka inginkan. Kebanyakan orang hanya menjalankan hidup ini sebagai sebuah rutinitas. Dengan sedikit kenyamanan yang mereka rasakan maka berhenti sampai di situlah impiannya. Mereka takut membuat sedikit perbedaan karena khawatir kenyamanan itu akan hilang.
Semua orang pasti memiliki potensi yang luar biasa, dan keluarbiasaan itu baru akan tergali secara maksimal jika kita sudah bisa keluar dari penjara mental kita. Jika kita sudah menemukan profesi yang paling tepat dengan panggilan jiwa maka kita akan lebih mudah mengaktualisasikan potensi diri kita yang sebenarnya. Dengan itu kita mendedikasikan hidup untuk kehidupan ini; mempersembahkan yang terbaik yang bisa kita berikan untuk peradaban manusia yang sedang kita jalani saat ini.
Banyak orang berbakat yang terjerat borgol emas. Mereka sebenarnya bisa melakukan hal yang lebih, tapi mereka tidak berani melakukan hal yang berbeda atau keluar dari zona nyaman. Banyak orang yang sebenarnya bakatnya di bidang A, namun kenyataannya ia bekerja di bidang C. Ia tidak berani keluar dari pekerjaannya yang sekarang karena tidak adanya jaminan penghasilan jika ia benar-benar keluar. Akhirnya ia merasa kehidupannya bagai di penjara, pekerjaannya mengurung ia seperti di sangkar emas. Tidak salah lagi, bukan potensi terdahsyat yang keluar dari dirinya, namun semua itu seakan menjadi rutinitas agar ada nasi yang bisa dimakan hari ini, besok, dan seterusnya.
Jika Anda ingin kehidupan Anda penuh semangat dan bahagia maka temukan apa yang sebenarnya Anda inginkan dan kejarlah hal itu. Semua butuh perjuangan dan kerja keras, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi ada hal yang harus Anda tahu: tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dalam hidup ini selama kita mau berusaha dan mencobanya.
3.Bersyukur terhadap apa yang sekarang kita miliki dengan tulus.
Setiap orang mempunyai titik kepuasan sendiri-sendiri. Ada orang yang jika mempunyai rumah satu sudah puas, namun ada juga yang sudah memiliki rumah, hotel, vila dan real estate di berbagai penjuru kota masih belum puas. Ada orang yang punya tabungan 1 juta rupiah sudah merasa kaya, namun ada juga orang yang sudah punya tabungan, deposito, saham, dan asset investasi lainnya bernilai miliaran masih merasa kurang.
Pada umumnya untuk urusan harta benda duniawi orang selalu ingin lebih banyak lagi dan lagi. Jika diukur maka tidak ada batasnya. Kabar buruknya adalah hanya sedikit saja dari mereka yang terpenuhi keinginannya.
Orang yang pikirannya selalu merasa kurang, miskin, tidak beruntung, dan sikap negatif lainnya mana mungkin ia akan bahagia dan bersemangat dalam hidupnya. Jika yang dipikirkan hanyayang tidak dimiliki, mana mungkin kita akan bersyukur. Oleh karena itu, dengan mensyukuri semua yang ada pada kita saat ini, itulah sebenarnya sumber semangat kita. Kita akan sadar bahwa Tuhan sebenarnya sangat sayang kepada kita. Banyak sekali nikmat yang sudah kita rasakan, sementara lebih banyak lagi orang yang nasibnya tidak seberuntung kita. Adapun sesuatu yang kita inginkan yang belum kita miliki, itu adalah kesempatan bagi kita untuk berikhtiar semampu kita untuk mendapatkannya. Jangan pernah kecewa, apalagi putus asa.
4.Yakin bahwa apa pun yang kita lakukan akan mendapat balasan, baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Setiap perbuatan kita pasti akan ada efeknya. Kita tersenyum pada orang lain maka orang lain pun akan tersenyum pada kita. Kita tidak sengaja menginjak kaki orang, mungkin bisa saja orang itu akan marah. Kita memberi sedekah (100 ribu misalnya) pada seorang pengemis, pasti si pengemis akan gembira luar biasa seakan itu sebuah mimpi, dan untaian kalimat doa pun keluar dari mulutnya untuk kebaikan kita. Kita marah, orang di sekitar kita pasti menjauh. Di tempat ramai tiba-tiba kita tertawa sendiri tanpa sebab yang masuk akal, mungkin kita akan disangka gila.
Jadi, semua perbuatan (aksi) yang kita lakukan akan menimbulkan efek atau reaksi. Dan efek atau reaksi yang muncul sesuai dengan hukum tabur-tuai. Seperti jika kita menanam padi, bisa dipastikan yang akan tumbuh juga padi. Namun jika kita menanam rumput maka yang akan tumbuh juga rumput. Kalau kita mengharap padi yang akan tumbuh maka kita harus segera bangun dari mimpi buruk.
Setelah kita tahu bahwa apa pun yang kita lakukan akan menimbulkan akibat, baik langsung maupun tidak langsung terhadap diri kita, maka kita harus memilih hanya untuk berbuat yang baik, positif, bermanfaat, dan bernilai saja. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa efek yang akan kembali kepada kita juga hal-hal yang baik pula. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini jika kita tahu benar apa yang kita lakukan. Sekecil apa pun yang kita lakukan akan dinilai oleh malaikat pencatat amal. Balasannya tidak saja di dunia, tetapi juga kelak di akhirat. Jika kita ingin rekapan catatan amal tersebut isinya bagus maka kita pun harus selalu menjaga agar setiap perbuatan yang kita lakukan adalah perbuatan terbaik. Waktu adalah aset terpenting kita setelah nafas/oksigen maka kita harus mengisinya dengan gerak/aksi/perbuatan yang jelas manfaatnya. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Jadi semuanya pantang sia-sia.
Dengan menyadari hal ini akan sulit bagi kita untuk tidak bersemangat. Mungkin keadaan Anda saat ini sedang tidak menyenangkan, tapi bukankah kita bisa merubahnya menjadi sebaliknya dengan aksi kita selanjutnya; dengan respon kita terhadap keadaan tersebut. Jika kekasih meninggalkan kita, bukankah kita bisa cari yang lain lagi. Jika kita di PHK, bukankah kita bisa cari pekerjaan lain yang lebih baik atau membuka usaha sendiri. Jika usaha kita lagi sepi atau bangkrut, masih ada kesempatan untuk bangkit lagi. Demikian seterusnya; selalu ada solusi untuk tiap masalah. Kita hanya perlu tetap bersemangat, optimis dan menjernihkan pikiran agar respon dan aksi kita benar-benar efektif dan efisien. Semoga bermanfaat.
Salam sukses dan bahagia!
Sistem pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif. Hal ini dapat dilihat dari orientasi sekolah sekolah yang ada masih disibukkan dengan ujian, mulai dari ujian mid, ujian akhir hingga ujian nasional. Ditambah latihan-latihan soal harian dan pekerjaan rumah untuk memecahkan pertanyaan di buku pelajaran yang biasanya tak relevan dengan kehidupan sehari hari para siswa.

Saatnya para pengambil kebijakan, para pendidik, orang tua dan masyarakat senantiasa memperkaya persepsi bahwa ukuran keberhasilan tak melulu dilihat dari prestasi angka angka. Hendaknya institusi sekolah menjadi tempat yang senantiasa menciptakan pengalaman pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul.

Pengertian Pendidikan Karakter

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Konsep Pendidikan Karakter
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).

Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.

Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.

Kofigurasi Karakter
Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Dunia Pendidikan

“Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk 275 juta penduduk Indonesia”
Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:
  • 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
  • 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
  • 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
  • Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Sumber : Litbang Kompas
Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat Negara.
Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini pesdrta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.

Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.
Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient.
Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang sedang duduk dikursi penting pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang mengelola roda perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter yang baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita serahkan pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru sebaliknya?
Dari sudut pandang psikologis, saya melihat terjadi penurunan kulaitas “usia psikologis” pada anak yang berusia 21 tahun pada tahun 20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001. Maksud usia psikologis adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang berbanding lurus dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti berumur 12 atau 11 tahun. Maaf jika ini mengejutkan dan menyakitkan.
Walau tidak semua, tetapi kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya berulangkali bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak “kapok” ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja saya menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku dan karakter mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah sekolah seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Pertanyaan saya mencari “diri” itu didalam diri atau diluar diri? “saya cocoknya kerja apa ya? Coba kerjain ini lah” lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa tidak diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan  di dunia yang sesungguhnya tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus asa karena tumbuh perasaan tidak mampu didalam dirinya dan seumur hidup  terpenjara oleh keyakinannya yang salah.

Baiklah kembali lagi ke topik, Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia, sanggup?
Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)

Cara Membuat Nasi Goreng Berselimut

Cara Membuat Nasi Goreng
Cara Membuat Nasi Goreng Berselimut Cara Membuat Nasi Goreng Berselimut Bahan yang digunakan untuk Cara Membuat Nasi Goreng Berselimut: 250 gr nasi putih 100 gr daging ayam, potong dadu 60 gr kacang polong 60 gr wortel, potong dadu 1 buah tomat, potong dadu 1 batang daun bawang, potong-potong 3 siung bawang merah 2 siung bawang putih ½ sdm kecap manis 1 sdm saus tomat 3 sdm minyak goreng ½ sdt garam halus Cara Membuat Nasi Goreng Berselimut u…

Sekolah Berstandar Internasional Bikin Boros Anggaran Negara


REPUBLIKA.CO.ID, PADANG - Koordinator Advokasi dan Investigasi Sekretariat Nasional Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Seknas Fitra) Uchok Sky Khadafi meminta pemerintah untuk menyetop sekolah berstandar internasional (SBI), karena dinilai memboroskan anggaran negara.

"Sebab alokasi anggaran untuk SBI itu lebih besar dibandingkan dengan sekolah standar nasional, akibatnya tidak akan ada lagi pemerataan mutu pendidikan di Indonesia," kata Uchok Sky Khadafi dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Padang, Kamis.

Menurut Uchok Sky Khadafi, Seknas FITRA telah meminta DPR bisa mendesak untuk permintaan itu mumpung masih ada waktu dan RAPBN 2012 belum disahkan. Tuntutan itu, yakni untuk menghapus alokasi anggaran bagi SBI-SBI itu agar tidak ada lagi ketidakadilan dan diskrimanasi bagi orang-orang miskin yang hanya mampu menyekolahkan anaknya pada sekolah standar nasional.

Ia mengatakan, walaupun dalam Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 50 ayat (3) daerah didorong membentuk sekolah standar internasional, namun DPR harus menghentikan kebijakan sekolah standar internasional ini.

"SBI hanya memboroskan anggaran negara, dan anggaran negara ini hanya dinikmati atau diperuntukan bagi keluarga orang-orang kaya yang justru mampu membayar uang masuk dan SPP yang sangat mahal ke sekolah Standar internasional alias SBI atau RSBI itu," ujarnya.

Dampak lainnya, untuk kebijakan anggaran pendidikan yang tidak adil dan sangat diskriminasi ini, adalah Pemda berlomba-lomba ingin mendirikan SBI agar mendapat alokasi anggaran 'block grant' dari pemerintah pusat.

"Mirisnya hal ini akan mengakibatkan Pemda lebih mengutamakan memberikan alokasi anggaran (APBD) untuk SBI dan mengabaikan sekolah-sekolah yang sangat terpencil, yang sebetulnya sangat membutuhkan dana APBD," katanya.

Berdasarkan sumber Seknas FITRA diolah dari Himpunan RKA Kementerian Pendidikan tahun 2011 dan 2012, tercatat tahun anggaran 2012, pemerintah tetap mengalokasikan anggaran untuk program RSBI dan SBI sebesar Rp 242 miliar. Sedangkan alokasi anggaran untuk sekolah standar nasional sebesar Rp 108 miliar.

Diakuinya bahwa pada tahun anggaran 2012 ini, untuk alokasi anggaran sekolah bertaraf internasional mengalami penurunan sebesar Rp 47,61 miliar lebih bila dibandingkan dengan alokasi anggaran tahun 2011 sebesar Rp 289 miliar.

Sedangkan alokasi anggaran untuk sekolah standar nasional pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar Rp 142,4 miliar lebih bila dibandingkan dengan alokasi anggaran tahun 2011 sebesar Rp 108 miliar.

Kemudian, untuk penurunan alokasi anggaran sekolah standar nasional ini sangat dratis sekali penurunan alokasi anggarannya, jika dibandingkan dengan alokasi anggaran untuk sekolah standar internasional.
Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?
Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.
Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognisi. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan seperti itu!
Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.

Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu apa sih pendidikan karaker itu?
Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.
Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.
Perbedaan pendidikan di sekolah negeri, swasta, dan

internasional


1. Tingkat perhatian guru terhadap murid di kelas


Untuk hal ini, sekolah negeri akan kalah jauh dibandingkan sekolah
swasta dan internasional dikarenakan jumlah murid yang sangat banyak
dalam satu kelasnya untuk sekolah negeri. Rata-rata murid di setiap
kelas untuk sekolah negeri berkisar antara 40-45 orang (sewaktu saya
sekolah malah sampai 48 orang ) Hal ini mengakibatkan guru tidak dapat
memperhatikan tiap muridnya secara baik, sehingga apabila ada murid yang
mempunyai masalah yang unik dalam memahami pelajaran, maka hal ini
tidak dapat diakomodir oleh guru yang bersangkutan dengan baik.

2. Pola Pengajaran


Sekolah negeri memakai pola pengajaran yang sangat statis, tidak
seperti sekolah swasta dan internasional yang biasanya memakai pola
pengajaran secara dinamis. Materi yang diberikan oleh guru dari sekolah
negeri cenderung disampaikan dalam format satu arah, artinya guru
berceramah kepada murid-murid dan tidak ada timbal balik yang terjadi
antara murid dan guru. Hal ini akan sangat berbeda sekali dengan sekolah
swasta apalagi internasional yang penyampaian materi pelajaran biasanya
disampaikan dalam bentuk diskusi antara guru dengan murid.

3. Buku ajar (Buku yang digunakan siswa dan guru dalam
belajar)



Untuk hal ini sekolah internasional yang biasanya menggunakan buku
buatan luar negeri (menurut pendapat saya pribadi) lebih unggul
dibanding sekolah swasta dan negeri yang menggunakan buku ajar buatan
Indonesia. Perbedaan paling mencolok adalah pada buku dalam negeri
apabila kita mencari pengertian tentang (misal) “GAYA GRAVITASI”  maka
di buku buatan dalam negeri akan dengan mudah kita temukan secara nyata
suatu kalimat tersurat yang memberikan pengertian tentang “GAYA
GRAVITASI”,

contoh :


“Gaya gravitasi adalah gaya tarik yang dimiliki oleh
setiap benda yang memiliki massa.”

sedangkan bila kita membaca buku buatan luar negeri maka biasanya
saat kita mencari pengertian tentang “GAYA GRAVITASI” maka kita hanya
akan mendapat pengertian secara tersirat.

contoh :


“setiap benda yang ada di bumi ketika terjatuh pasti akan
terjatuh ke bawah, sama halnya ketika peristiwa ini disadari oleh sir
isaac newton pada saat dia merenung dibawah pohon apel, dia menyadari
bahwa setiap benda akan terjatuh kebawah dikarenakan adanya gaya tarik
oleh bumi, gaya tarik ini yang sekarang kita kenal dengan nama gaya
gravitasi”

Dengan demikian setiap murid dibebaskan untuk memberi pengertian
tentang suatu hal yang terdapat pada materi yan diajarkan.

4. Bahasa yang digunakan dalam mengajar


Sekolah internasional menggunakan bahasa Inggris, sementara sekolah
swasta dan negeri menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi, kebanyakan murid
sekolah internasional tidak dapat berbahasa Indonesia sebaik murid
sekolah negeri dan swasta. Misalnya mereka kebanyakan tidak tahu arti
kata :

-menyokong

-kendala, dan lain-lain.

5. Wawasan Nusantara


Berdasarkan pengamatan saya, wawasan mengenai Indonesia yang
didapatkan dari sekolah internasional tidak terlalu baik, makanya banyak
murid-murid sekolah internasional yang tidak mengetahui tentang
kebudayaan Indonesia. Ironisnya hal ini mengikis rasa nasionalisme
mereka.

6. Tujuan setiap murid dalam melanjutkan pendidikan


Murid sekolah internasional pada umumnya cenderung ingin melanjutkan
sekolah ke luar negeri, sementara biasanya murid sekolah negeri dan
swasta ingin melanjutkan pendidikannya di Indonesia (walaupun ada
beberapa yang ingin melanjutkan ke luar negeri)

7. Cara belajar


Murid sekolah internasional dan swasta banyak melakukan diskusi
dengan guru, presentasi di depan kelas, berdebat dan beradu argumentasi,
sementara murid sekolah negeri belajar dengan cara menghafal dan
memahami materi dengan mendengarkan guru dan membaca textbook. Hal ini
menyebabkan murid sekolah swasta pandai dalam menyampaikan pendapatnya
sedangkan murid sekolah negeri susah menyampaikan pendapatnya
dikarenakan cenderung pasif dalam belajar.

8. Materi ajar


Sekolah negeri dan swasta memiliki materi yang jauh lebih sulit
dibandingkan materi sekolah internasional, sehingga seringkali banyak
murid sekolah negeri maupun swasta yang mengalami perasaan tertekan
dalam belajar. Berbeda dengan sekolah internasional, mereka belajar
pelajaran yang mudah dan mendasar (perbandingannya pelajaran SMA sekolah
internasional = pelajaran SMP sekolah negeri) sehingga mereka merasa
nyaman dan senang dengan pelajaran yang sedang dipelajari.

misal : sekolah negeri mempelajari segitiga kongruen dan sudut-sudut
istimewa pada lingkaran saat SMP sedangkan sekolah internasional
mempelajari hal yang sama saat SMA sewaktu ingin melanjutkan ke college
(pre-university).

Sehingga secara garis besar dapat disimpulkan bahwa :


1. Untuk murid yang pandai, ingin menguasai banyak
pelajaran dan materi, sebaiknya memilih sekolah negeri dikarenakan
materi ajarnya yang sangat padat dan berbobot.

2. Untuk murid yang tertarik ingin melanjutkan
pendidikan ke luar negeri dapat memilih sekolah internasional.

3. Untuk murid yang memiliki masalah dalam memahami
pelajaran, dapat memilih sekolah swasta maupun internasional untuk
mendapatkan bimbingan yang lebih baik dan intensif dari guru pengajar.

4. Untuk murid yang memiliki bakat sebagai seorang
public speaker sebaiknya mengambil pendidikan di sekolah swasta ataupun
internasional dikarenakan pola pengajaran di sekolah tersebut sangat
memungkinkan seorang murid untuk mengemukakan pendapatnya.

5. Untuk murid yang ingin mempelajari materi secara
mendalam dan paham konsep dari materi yang diajarkan sebaiknya mengambil
pendidikan di sekolah internasional dikarenakan mereka menggunakan
metode belajar deep learning dimana materi dijelaskan secara sederhana
agar murid mengerti konsep dari permasalahan mendasar dari materi yang
diajarkan.


Wajah Pendidikan di Indonesia

Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?
Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.
Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognisi. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan seperti itu!
Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.

Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu apa sih pendidikan karaker itu?
Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Pendhdikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.
Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.

VN:F [1.9.14_1148]
Nama : Rizki M. Arif (9E - 38)
 

Bioteknologi adalah penggunaan biokimia, mikrobiologi, dan rekayasa genetika secara terpadu, untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentingan manusia.
Biokimia mempelajari struktur kimiawi organisme. Rekayasa genetika adalah aplikasi genetik dengan mentransplantasi gen dari satu organisme ke organisme lain.
Ciri utama bioteknologi:
1. Adanya aBen biologi berupa mikroorganisme, tumbuhan atau hewan
2. Adanya pendayagunsan secara teknologi dan industri
3. Produk yang dihasilkan adalah hasil ekstraksi dan pemurnian
Gbr. Kegunaan Bioteknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia
Perkembangan bioteknologi :
1.
Era bioteknologi generasi pertama Þ bioteknologi sederhana.
Penggunaan mikroba masih secara tradisional, dalam produksi makanan dan tanaman serta pengawetan makanan.
Contoh:
pembuatan tempe, tape, cuka, dan lain-lain.

2.
Era bioteknologi generasi kedua.
Proses berlangsung dalam keadaan tidak steril.
Contoh:
a. produksi bahan kimia: aseton, asam sitrat
b. pengolahan air limbah
c. pembuatan kompos

3.
Era bioteknologi generasi ketiga.
Proses dalam kondisi steril.
Contoh:
produksi antibiotik dan hormon

4.
Era bioteknologi generasi baru Þ bioteknologi baru.

Contoh:
produksi insulin, interferon, antibodi monoklonal

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

My Youtube